Kekalahan Jepang, Inilah Akhir Perang Dunia (Part II)

Amerika Serikat mulai mengalihkan rencananya untuk mengadakan uji coba teknologi senjata pemusnah masal yakni bom atom. Mereka mau mencoba menggunakan senjata ini untuk memaksa Jepang agar menyerah. 6 Agustus 1945, sebuah pesawat B-29 milik Amerika Serikat terbang tinggi diatas langit Hiroshima. Pesawat ini membawa paket spesial dari Amerika untuk kekaisaran Jepang, sekitar 80.000 orang terkenal hantaman paket ini dan sekitar 90% kota hancur berantakan. Orang yang selamat dari hantaman ledakan paket ini kelak akan merasakan sakit dari radiasi yang dilawannya.

Meski efeknya begitu besar, Jepang masih belum mau menyerah sebelum akhirnya Uni Soviet menginvasi Manchuria 3 hari kemudian yakni 9 Agustus 1945. Stalin menepati janji yang dibuatnya di konferensi Yalta dan ia mendeklarasikan perang Uni Soviet melawan Jepang. Tentara Jepang tidak mampu menahan tentara Uni Soviet yang maju karena banyak dari mereka yang dialihkan ke selatan demi menahan pertahanan mereka di Okinawa.

Di hari yang sama, Amerika memberikan paket spesial yang ke 2, namun kali ini ke kota Kokura. Meskipun begitu, karena Kokura kurang terlihat oleh sang pilot, mereka mengalihkan rute bom ke kota Nagasaki. Kota Kyoto tadinya juga ingin dijadikan sebagai target bom atom, namun ditolak oleh seorang politikus Amerika Serikat bernama Hanry Lewis Stimson. Baginya Kyoto memiliki nilai sejarah yang tak ternilai mulai dari kuil Buddha dan relik ibukota Jepang Kuno. Jika hingga sekarang kalian masih bisa melihat bangunan tua dan relik bersejarah di Kyoto, berterima kasihlah kepada Hanry Stimpson.

Uni Soviet dengan waktu yang sangat cepat berhasil menguasai Manchuria, hal ini tentu mengejutkan Jepang karena dalam waktu beberapa kepulauan Kuril sudah siap untuk diinvasi oleh Soviet. Amerika Serikat sendiri belum bisa menginvasi Jepang dalam beberapa hari, mereka membutuhkan beberapa tahun dari 1941 hingga 1945 Amerika belum bisa menginvasi Jepang. Meskipun begitu, Soviet hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk bersiap menginvasi kepulauan Kuril. Jika kepulauan Kuril berhasil dikuasai oleh Soviet maka Hokaido akan menjadi target Soviet selanjutnya. Mendengar hal ini politikus Jepang sangatlah khawatir jika mereka diinvasi oleh Uni Soviet, bagi mereka bom atom tidak dapat menghancurkan kehormatan mereka namun Soviet mampu.

Jika kembali mundur pada 17 July 1918 di sebuah rumah bernama rumah Ipatev di Rusia didatangi oleh para pasukan pemberontak. Nicholas Romanov mantan Tsar Rusia yang pada saat itu masih tidur tiba-tiba dibangunkan oleh orang-orang tidak dikenal yang membawa kabar bahwa pasukan revolusi telah datang dan mereka diamankan di sebuah basement. Namun Nicholas Romanov dan keluarganya justru ditembak habis-habisan di basement tersebut.

Menyerahnya Jepang Sebagai Tanda Bahwa Perang Dunia Telah Berakhir

Peristiwa itu memberikan peringatan kepada para petinggi Jepang bahwa Uni Soviet tidak akan ambil pusing untuk menghabisi keluarga kerajaan. Keluarga Romanov telah memimpin Rusia selama 300 tahun sedangkan kaisar Jepang dan keluarganya memerintah Jepang memerintah selama lebih dari 1.000 tahun. Bagi Jepang menyerah ke Amerika demi mempertahankan kehormatan mereka untuk melanjutkan sistem kerajaan yang tekah dipertahankan selama berabad-abad dibandingkan menyerah kepada Uni Soviet.

Selain itu bom atom merupakan alasan yang baik untuk militer Jepang, jika jepang menyerah kepada Soviet itu berarti Jepang telah kalah perang secara militer. Namun jika mereka menyerah karena bom atom, rakyat dan masyarakat luar negeri akan memberikan empati bahwa Jepang kalah karena senjata yang tidak normal yakni bom atom. Para rakyat dapat berpikir bahwa senjata yang tidak normal ini memaksa Jepang untuk mendeklarasikan kekalahan meskipun sebenarnya mereka masih bisa berperang.

Pada akhirnya 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Amerika dengan MacArthur sebagai perwakilan. Sang kaisar mengumumkan menyerahnya Jepang kepada sekutu dan hal tersebut disalurkan oleh radio. Sementara itu Soviet masih menyerang Jepang di utara dan Manchuria, pada tanggal 2 September 1945, Jepang dan Amerika menandatangani penyerahan tanpa syarat dari Jepang kepada sekutu, hari ini diperingati sebagai V-J Day di Asia dan merupakan tanda bahwa perjalanan panjang Jepang dalam perang dunia ke 2 telah berakhir.

Setelah itu, pasukan Jepang yang masih berada di negara Asia seperti Filipina mulai menarik diri. Peristiwa terakhir yang terjadi pada penghujung perang dunia ke 2 adalah pada tanggal 29 September 1945 dimana pertemuan antara Jenderal MacArthur dan kaisar Hirohito yang diakhiri dengan foto bersama. MacArthur yang lebih gagah dan tinggi melambangkan bahwa Hirohito bukanlah seorang dewa dan tampak kurang berpengaruh dibandingkan MacArthur. Teater perang dunia ke 2 telah berakhir dan dunia akan memasuki lembaran baru yang tidak dapat diprediksi.

Kekalahan Jepang, Inilah Akhir Perang Dunia (Part I)

Januari 1945, perang bagi Jepang sudah bagaikan senja. Para tentara Jepang berbaring lemas di barak dan tempat persembunyian mereka sambil membayangkan betapa kuatnya mereka dahulu. Kekuatan militer Jepang yang kuat dan tangguh dalam ratusan bahkan ribuan tahun. Saat Jepang diinvasi pasukan Mongol, para samurai gagah berani memukul balik mereka. Saat bangsa barat menguasai tetangga mereka yakni China, Jepang dengan cepat melakukan restorasi Meiji.

Namun kini itu semua hanyalah kenangan, Sekutu sudah semakin mendekati Jepang dan kelak pulau-pulau mereka akan diinvasi. Jenderal MacArthur dijadikan komandan utama di darat, sedangkan sobatnya Jenderal Nimitz dijadikan komandan utama di laut. Mereka ditugaskan untuk menyerang Iwo Jima, Okinawa dan kepulauan utama Jepang.

Pada tanggal 3 Januari 1945, Filipina kembali diserang oleh Amerika Serikat. Bulan ini kelak akan menjadi bulan yang sangat menegangkan bagi Jepang. Bagaimana tidak, Manila diserang pada 3 Februari, sedangkan pulau belerang atau Iwo Jima diserang pada 19 Februari 1945. Meskipun begitu kedua perang ini kelak akan membawa jumlah korban yang besar bagi sekutu. Sang marinir terkenal dari Guadalcanal, Sersan John Basilone yang telah mendapatkan medal of honnor sebelumnya menjadi korban akibat terkena mortar di hari pertama penyerangan Iwo Jima dan tewas.

Pada bulan Februari juga ada hal penting yang terjadi, yakni konferensi Yalta. Pada konferensi ini, Stalin dari Soviet berjanji akan membantu menyerang Jepang tepat 3 bulan setelah Jerman kalah. Meskipun Soviet memiliki pakta non agressi dengan Jepang. Soviet dan Jepang memiliki perbatasan panjang di Manchuria yang harus diamankan oleh Stalin. Selain itu Manchuria memiliki rel kereta api serta pelabuhan Dalian yang strategis. Soviet juga tidak menutup kemungkinan untuk menguasai daerah Sakhalin yang direbut Jepang setelah Russia Japenese War pada tahun 1905, 40 tahun yang lalu.

Konferensi Yalta ini memberi hak kepada Soviet untuk mengambil kembali Sakhalin selatan dan kepulauan Kuril sebagai tebusan bagi kekalahan mereka yang memalukan pada 1905. Kembali ke pertempuran Iwo Jima, Jenderal Jepang yang memimpin di Iwo Jima, Tadamichi Kuribayasi adalah jenderal yang menarik, ia pernah tinggal di Amerika Serikat dan ia menyadari betapa kuatnya kekuatan industri dari Amerika serikat. Pengalaman ini membuat Kuribayasi paham bahwa ia tidak akan bisa mengalahkan Amerika dengan strategi yang sama seperti Jenderal Jepang yang lainnya.

Kekalahan demi Kekalahan Jepang di Berbagai Wilayah

Strategi Kuribayasi adalah bertahan dan berusaha untuk memberikan kerugian yang sebesar mungkin bagi Amerika dan berharap mereka bisa mundur dan bukan mencoba untuk mengalahkan mereka. Ia berkata, tidak ada yang boleh mati sebelum setidaknya membunuh 10 prajurit musuh. Seperti Rommel ia bahkan membuat pasukan sekutu yang merupakan lawannya menjadi terkesan. Jenderal Howdy Smith yang memimpin USMC di Iwo Jima bahkan berkata, dari semua musuh kita di Pasifik, Kuribayasi adalah yang paling hebat.

Pertempuran di Iwo Jima berakhir pada 26 Maret 1945. Amerika menerima lebih dari 20.000 korban perang, melebihi tentara Jepang yang menerima sekitar 15.000 korban. Sedangkan Kuribayasi menghilang di Iwo Jima dan jasadnya tidak pernah ditemukan. 6 hari kemudian, setelah penaklukan Iwo Jima, Okinawa diinvasi oleh Amerika Serikat. Okinawa sangatlah penting bagi sekutu untuk dijadikan basis penyerangan ke kepulauan Honsu atau pulau utama Jepang.

Meskipun semuanya terlihat baik bagi sekutu, sebenarnya ada kabar duka dari Amerika Serikat pada tanggal 12 April 1945. Hari itu, presiden Amerika yang telah menjadi pemimpin saat depresi besar dan perang dunia ke 2 yaknik presiden Franklin Delano Roosevelt meninggal dunia. Bagi Amerika, Franklin Delano Rooosevelt adalah seorang ayah dan karenanya Wapres Truman menggantikannya sebagai presiden.

8 May 1945, Jerman mendeklarasikan bahwa mereka telah berhenti berperang di Eropa. Dengan deklarasi ini pertempuran di Eropa telah dimenangkan oleh sekutu. Jika Stalin menepati janjinya pada konferensi Yalta, maka bulan Agustus 1945 Jepang juga akan diserang oleh Uni Soviet. Jepang pun mulai menarik mundur pasukannya dari tempat kritis seperti China pada 20 Juni. Namun perdana menteri Jepang mengumumnkan bahwa Jepang tetap akan berperang hingga titik darah penghabisan.

2 Sekutu Jepang yakni Jerman dan Italia sudah menyerah dan membuat Jepang harus siap digempur sendirian oleh negara-negara besar yang tadinya lebih berfokus di Eropa seperti Uni Soviet. Pengumuman perdana menteri Suzuki juga mengindikasikan bahwa Jepang sudah kalah perang dan mereka hanya ingin menjaga kehormatan mereka dibandingkan menyerah. Filipina pun diumumkan bebas oleh Amerika pada 5 Juli 1945.

Jepang Semakin Terdesak, Inikah Akhir Perang Pasifik?

Januari 1944, Jepang yang sebelumnya menyerang secara membabi buta pada tahun-tahun sebelumnya sekarang mengubah taktiknya untuk terus bertahan. Salah satu posisi strategis lainnya yang juga diincar sekutu adalah Kwajalein Atoll, dengan menguasai Kwajalein, Amerika akan memiliki tempat untuk mempersiapkan armada kapal mereka demi menyerang wilayah Jepang yang lain seperti Saipan, Guam dan bahkan Filipina yang merupakan daerah Amerika yang diserang habis-habisan oleh Jepang.

30 Januari 1944, Amerika membombardir Kwajalein dengan sekuat tenaga. Marinir dan angkatan darat Amerika menyerang dengan kekuatan 85.000 orang, tentara Jepang yang melindungi Kwajalein sangat kuwalahan dikarenakan mereka kalah jumlah sekitar 40.000 orang. Meskipun begitu, tentara Jepang bukanlah pasukan yang mudah menyerah dan mereka lebih memilih mati terhormat dibandingkan menyerah. Akibat sikapnya yang keras kepala ini mereka kehilangan hampir 5.000 orang pada pertempuran Kwajalein.

Pada 3 Februari 1944, Sekutu menyatakan bahwa pulau tersebut telah diamankan dari pengaruh kekaisaran Jepang. Jepang pun sekarang sudah mulai memahami bahwa mereka hanya bisa bertahan dari pasukan Amerika yang kelak akan datang secara masif ke daerah kekuasaan mereka. Meskipun kelihatannya, Filipina adalah daerah yang ingin direbut kembali oleh Amerika. Jendral MacArthur mengadakan diskusi dengan beberapa laksamana lainnya, mereka lebih mengutamakan Formosa untuk dikuasai dibandingkan Filipina. Formosa dinilai lebih strategis dibandingkan Filipina karena posisinya yang lebih dekat dengan kepulauan Jepang.

Semakin Terdesaknya Jepang di Perang Asia Pasifik

Selain itu jika Formosa jatuh, komunikasi Jepang ke Asia Tenggara akan terganggu, terutama ke Hindia Belanda atau Malaya. Maka dari itu sekutu mulai menyusun rencana untuk menyerang Formosa. Namun terlepas dari fakta ini, bukan berarti Filipina tidak diinginkan oleh Amerika, Filipina tetap memiliki landasan yang strategis untuk menuju kearah manapun termasuk Asia Tenggara dan wilayah kekuasaan Jepang lainnya. Dengan Rencana ini akhirnya sekutu membagi dua jalan untuk peperangan di Pasifik. MacArthur akan menyerang ke Filipina lewat New Guinea, sedangkan Chester Nimitz akan mengamankan Filipina lewat kepulauan Mariana.

Pasukan sekutu merupakan pasukan gabungan yang mayoritas terdiri dari pasukan Amerika. Mereka terus mendorong Jepang hingga kejadian penting terjadi pada 22 April dimana pasukan sekutu telah berhasil menyerang Hollandia. Dengan penyerangan ini, berarti Hindia Belanda sudah dimasuki oleh sekutu, dan kemudian satu bulan setelahnya, sekutu telah menginvasi Biak.

15 Juni 1944, pulau Saipan di Mariana diserbu oleh sekutu. Hal ini cukup menarik mengingat 9 hari sebelumnya sekutu baru saja menjalankan operasi D-Day yang metode penyerangannya hampir sama dengan operasi di Mariana yakni menginvasi secara amfibi. Seperti rencana sebelumnya, laksamana Chester Nimitz adalah seorang yang bertanggung jawab atas jalannya operasi ini. Pertempuran di pulau Saipan juga menandakan dimulainya pertempuran di kepulauan Mariana dan Palau.

Kekuatan Amerika yang tak terkalahkan membuat Jepang akhirnya terdesak hingga ke Tinian pada Agustus 1944. Jatuhnya Tinian menandakan bahwa Mariana sudah jatuh ke tangan Sekutum, dengan Jatuhnya kepulauan Mariana, Jepang harus siap menerima serangan pesawat bomber dari Amerika. Meski begitu, tentara Jepang tetap keras kepala dan tidak kehilangan kepercayaan diri mereka akan kejayaan Jepang. Kelak pertempuran yang diberikan oleh mereka akan lebih brutal dan berbahaya bagi Jepang maupun Amerika.

Sekarang Amerika dan sekutunya bisa memfokuskan diri untuk melemahkan Jepang di Palau dan Formosa. Meski Jepang sudah semakin terdesak, uniknya pada pemerintah Jepang menyembunyikan kejadian sesungguhnya dari masyarakat. Para rakyat diharapkan untuk terus menjunjung tinggi rasa nasionalisme dan kepercayaan akan kemenangan yang membawa kejayaan bagi Jepang. Meskipun begitu, moral dari rakyat Jepang sudah mulai menurun dan alasan utamanya adalah karena kekurangan bahan makanan.

Untuk menghemat pasokan makanan, mereka memburu hewan di kebun binatang. Namun kematian hewan di kebun binatang malah membuat rakyat dan anak-anak menjadi sedih yang justru semakin menurunkan moral mereka. Formosa, pulai strategis yang diincar sekutu akhirnya diserang pada 12 Oktober 1944. Pertempuran Formosa sangat mirip dengan pertempuran London di Eropa dimana pertempuran ini merupakan pertempuran udara.

Pasukan Jepang yang dipimpin oleh laksamana Toyoda, seperti yang sudah diprediksi oleh sekutu sebelumnya, kekuatan Jepang di Formosa sangat berpengaruh terhadap koloni mereka di Asia Tenggara. Jika armada Jepang hancur di Taiwan maka akan sulit menjadi sulit bagi Jepang. Pertempuran berlangsung selama 4 hari hingga tanggal 16 Oktober dimana sekitar 600 kru angkatan perang Jepang yang harusnya dikirim ke teluk Leyte sudah tewas terlebih dahulu.

Selanjutnya perang di teluk Leyte dimenangkan oleh Amerika dalam waktu3 hari pada 26 Oktober. Namun Jepang tetap menunjukkan dunia bahwa mereka merupakan prajurit tangguh. Salah satu pembuktian Jepang akan hal ini adalah pertempuran di Peleliu adalah sebuah pulau kecil di kepulauan Palau. Meskipun pulau ini kecil, pulai ini dipenuhi oleh gua Galian yang menjadi pertahanan Jepang yang membuat Amerika menjadi kuwalahan.

Pasukan Amerika berpikir bahwa peperangan ini hanya akan berlangsung dalam beberapa hari. Namun nyatanya baru selesai pada 27 November 1944, ini berarti pertempuran untuk merebut pulau yang kecil ini berlangsung hampir 3 bulan sejak 15 September. Amerika bahkan kehilangan 9.800 orang yang merupakan 1.800 tewas dan 8.000 terluka. Selain itu pasukan Jepang juga melancarkan serangan Kamikazenya pada 25 Oktober 1944 di teluk Leyte. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan moral Amerika dalam perang, satu demi satu pilot Kamikaze mengorbankan dirinya demi kaisar dan Jepang.

Namun meskipun pasukan Jepang sangatlah berani, mereka tetap dipukul mundur oleh Amerika pada 11 November, sebuah pulau kecil di selatan Jepang secara mengejutkan dibom oleh Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika sudah mulai menyerang kepulauan Jepang. Selain itu kepulauan ini memiliki 2 landasan terbang yang apabila jatuh dapat dijadikan Amerika sebagai sanggahan kapal untuk menyerang kepulauan Jepang. Pulau yang hanya berjarak 1.220 km dari Tokyo ini bernama Iwo Jima dan kelak pulau ini akan menjadi salah satu perbatasan terakhir sebelum sekutu bisa menyerang kepulauan Jepang.

Serangan Balik Amerika Serikat Atas Jepang

Keperkasaan Jepang di Asia Tenggara telah dibuktikan dengan berhasil mengambil alih wilayah jajahan milik pasukan Sekutu. Hal ini dibuktikan dengan kaburnya seluruh komandan Sekutu ke wilayah Australia untuk menghindar dari kejaran Jepang. Namun, hal ini membuat yang pada awalnya adalah negara kecil, saat ini harus mampu mengelola berbagai wilayah jajahannya yang pada saat itu masih banyak terdapat penduduk setempat yang memiliki harapan akan kebebasan.

Pada awalnya Jepang disambut dengan baik oleh penduduk setempat karena mereka dipandang sebagai pembebas bangsa Asia. Namun, pada kenyataannya Jepang justru mengontrol berbagai aktifitas ekonomi, pemerintahan, hingga budaya di negara yang didudukinya tersebut. Seperti mengedukasi orang-orang di negara jajahannya dengan menetapkan bahasa Jepang sebagai kurikulum dalam pendidikan dan mengirimkan 23.000 orang di pemerintahan wilayah Hindia Belanda.

Hal ini sudah dapat dipastikan bahwa Jepang ternyata juga menjajah negara yang didudukinya. Banyak rakyat di negara dudukan yang pada awalnya pro kepada Jepang justru berbalik menjadi anti Jepang. Disamping itu, Jepang juga mempropagandakan dirinya sebagai pembebas Asia dari negara-negara penjajah. Karena hal itu, perdana menteri Jepang yaitu Tojo Hideki merancang Greater East Asia Ministry.

Organisasi ini berisikan pemimpin pro Jepang dari negara-negara yang diduduki oleh Jepang seperti India, Filipina dan Burma untuk menyatukan kekuatan melawan imperialisme barat. Meskipun begitu, Jepang juga harus bersiap menghadapi Amerika Serikat yang ingin balas dendam akibat diserangnya Pearl Harbor. Pada 4 juni 1942 yakni 6 bulan setelah penyerangan Pearl Harbor, Amerika dan Jepang berhadapan di Midway, sebuah pulau yang jaraknya 2.400 KM dari Hawaii.

Pertempuran Besar di Midway dan Kekalahan Jepang di Pasifik

Pulau ini akan menjadi penentu apakah Amerika dapat maju ke wilayah Pasifik atau ternyata Jepang dapat mempertahankan koloninya serta menunjukkan kekuatannya pada Amerika. Namun pada akhrinya pertempuran Midway dimenangkan oleh Amerika dengan ditenggelamkannya kapal Akagi, Hiryu, Kaga, dan Soryu yakni kapal pengangkut armada Jepang.

Melihat kekalahan ini, pada tanggal 19 Juni 1942 Jepang menghentikan rencana lanjutan di Midway yang artinya meninggalkan seluruh rencananya untuk meluaskan pengaruh di Pasifik. Pertempuran Midway sama seperti pertempuran Stalingrad di Eropa. Pertempuran ini merupakan titik balik melawan Jepang di Pasifik, mulai dari sekarang Jepang berperang bukan untuk menang namun untuk membela dirinya.

Amerika dengan moral yang sangat tinggi dan semangat yang sangat membara, melanjutkan serangan untuk menyerbu kepulauan Solomon tepatnya di Guadalcanal. Pertempuran Guadalcanal terjadi pada 7 Agustus 1942 dan pertempuran ini menjadi salah satu peperangan yang paling terkenal di Pasifik. Selain membuka kembali jalan bagi Amerika ke Asia Tenggara, pertempuran ini merupakan peperangan yang menghasilkan banyak tentara Amerika yang terkenal.

Salah satu yang paling terkenal adalah peristiwa sersan John Basilone yang mendapatkan medal of honnor yaitu medali tertinggi dalam institusi tentara Amerika Serikat. Basilone, seorang marinir yang berasal dari New Jersey membuat tentara Amerika Terkagum atas aksinya saat peristiwa Tokyo Ekspress pada Oktober 1942. Tokyo Ekspress adalah sebutan dari tentara Amerika bagi persediaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia Jepang yang diturunkan secara besar-besaran untuk menghajar habis Amerika Serikat.

Jendral Masao Maruyama memimpin sekitar 2.000 prajurit Jepang, namun banyak berhasil ditumpas oleh satu prajurit yang bernama Sersan John Basilone. Sebuah senapan mesin dengan berat 18,5 kg, diangkat oleh Basilone untuk melindungi garis pertahanan dari Amerika Serikat. Dengan senapan mesinnya, Basilone membuat pertempuran ini menjadi area pembunuhan masal bagi tentara Jepang. Ia menembaki tentara Jepang yang ia lihat dan saat ia kehabisan amunisi, ia membawa pistol dan golok untuk mengambil amunisi yang ada.

Setelah pertempuran berakhir, sekitar 1.000 prajurit Jepang mati di sekitarnya, meskipun secara resmi ia hanya membunuh 38 orang karena dikonfirmasi sisanya mati karena tembakan artileri. Karena Jepang kualahan menghadapi pasukan Amerika Serikat di Guadalcanal, kaisar Hirohito akhirnya menginstruksikan mereka untuk mundur pada 31 Desember 1942. Namun semua orang tahu bahwa tentara Jepang lebih memilih mati terhormat dibandingkan mundur atau menyerah.

Evakuasi tentara Jepang baru dimulai satu bulan kemudian yakni pada awal Februari 1943, walaupun masih ada perlawanan kecil pada 9 Februari 1943. Disamping itu, sekutu Amerika Serikat yang lainnya juga mulai ikut memberikan serangan balik terhadap Jepang. Pada 8 Februari, tentara Inggris dan India memulai serangan gerilya terhadap Jepang di Burma akibat tindakan Jepang yang sebelumnya juga sempat meledakkan bom di Kalkuta pada 20 sampai 24 Desember.

Sejak saat itu Jepang selalu diganggu oleh Inggris di Burma yang semakin menyudutkan Jepang di Asia Tenggara. Kejadian penting di Pasifik terjadi lagi pada tanggal 18 April 1943, pada hari ini laksamana Yamamoto yang merupakan arsitek dari penyerangan Pearl Harbor, pergi menggunakan pesawat di pulau Bouganville untuk melihat pangkalan-pangkalan Jepang yang sekarang menjadi wilayah Papua New Guinea.

Pasukan pemecah kode, berhasil memecahkan kode tentang keberadaan laksamana yang sudah memaksa Amerika untuk masuk kedalam perang dunia ke 2. Sekitar 18 pesawat dikerahkan dan berhasil menjatuhkan pesawat Yamamoto. Bagi Amerika hari ini adalah hari balas dendam atas Pearl Harbor dan Jepang kehilangan salah satu Jendral terbaiknya dalam urusan strategi. Akibat banyaknya kekalahan dan berita buruk, tentara Jepang semakin bengis dan membeci tentara sekutu. Mereka mengumumkan bahwa semua tentara Amerika Serikat yang tertangkan akan diberikan bonus, yaitu tiket satu arah ke neraka yang artinya adalah eksekusi masal pada tanggal 22 April 1943.

Namun sebenarnya hal ini sudah disadari oleh Amerika dan Sekutu mengingat betapa buruknya perlakuan tentara Jepang pada tawanan perang. Bahkan sehari sebelumnya, pada 21 April 1943 presiden Franklin mengumumkan ada beberapa kru angkatan Amerika yang dieksekusi Jepang. Kejahatan perang Jepang pun semakin terlihat semenjak hari itu, Centaur yang merupakan kapal rumah sakit milik Australia ditenggelamkan oleh kapal selam Jepang pada 14 Mei 1943.

Tapi tetap saja, Jepang terus didorong mundur hingga kaisar Hirohito menyatakan bahwa kondisi negaranya sudah benar-benar serius pada 26 Oktober 1943. Serangan terus menerus membuat mereka sudah kehilangan kepulauan Solomon dan sekutu sudah mendarat di Papua New Guinea. Pada akhir 1943, Cape Gloucesther, kejatuhahan ini menggambarkan bahwa Jepang sudah mulai mundur namun keadaan mereka belum termasuk parah karena mayoritas Asia Tenggara masih dikuasai mereka dengan sumber alamnya yang menunjang kebutuhan perang mereka. Keadaan perang yang parah baru dimulai pada tahun 1944.