Jepang Semakin Terdesak, Inikah Akhir Perang Pasifik?

Januari 1944, Jepang yang sebelumnya menyerang secara membabi buta pada tahun-tahun sebelumnya sekarang mengubah taktiknya untuk terus bertahan. Salah satu posisi strategis lainnya yang juga diincar sekutu adalah Kwajalein Atoll, dengan menguasai Kwajalein, Amerika akan memiliki tempat untuk mempersiapkan armada kapal mereka demi menyerang wilayah Jepang yang lain seperti Saipan, Guam dan bahkan Filipina yang merupakan daerah Amerika yang diserang habis-habisan oleh Jepang.

30 Januari 1944, Amerika membombardir Kwajalein dengan sekuat tenaga. Marinir dan angkatan darat Amerika menyerang dengan kekuatan 85.000 orang, tentara Jepang yang melindungi Kwajalein sangat kuwalahan dikarenakan mereka kalah jumlah sekitar 40.000 orang. Meskipun begitu, tentara Jepang bukanlah pasukan yang mudah menyerah dan mereka lebih memilih mati terhormat dibandingkan menyerah. Akibat sikapnya yang keras kepala ini mereka kehilangan hampir 5.000 orang pada pertempuran Kwajalein.

Pada 3 Februari 1944, Sekutu menyatakan bahwa pulau tersebut telah diamankan dari pengaruh kekaisaran Jepang. Jepang pun sekarang sudah mulai memahami bahwa mereka hanya bisa bertahan dari pasukan Amerika yang kelak akan datang secara masif ke daerah kekuasaan mereka. Meskipun kelihatannya, Filipina adalah daerah yang ingin direbut kembali oleh Amerika. Jendral MacArthur mengadakan diskusi dengan beberapa laksamana lainnya, mereka lebih mengutamakan Formosa untuk dikuasai dibandingkan Filipina. Formosa dinilai lebih strategis dibandingkan Filipina karena posisinya yang lebih dekat dengan kepulauan Jepang.

Semakin Terdesaknya Jepang di Perang Asia Pasifik

Selain itu jika Formosa jatuh, komunikasi Jepang ke Asia Tenggara akan terganggu, terutama ke Hindia Belanda atau Malaya. Maka dari itu sekutu mulai menyusun rencana untuk menyerang Formosa. Namun terlepas dari fakta ini, bukan berarti Filipina tidak diinginkan oleh Amerika, Filipina tetap memiliki landasan yang strategis untuk menuju kearah manapun termasuk Asia Tenggara dan wilayah kekuasaan Jepang lainnya. Dengan Rencana ini akhirnya sekutu membagi dua jalan untuk peperangan di Pasifik. MacArthur akan menyerang ke Filipina lewat New Guinea, sedangkan Chester Nimitz akan mengamankan Filipina lewat kepulauan Mariana.

Pasukan sekutu merupakan pasukan gabungan yang mayoritas terdiri dari pasukan Amerika. Mereka terus mendorong Jepang hingga kejadian penting terjadi pada 22 April dimana pasukan sekutu telah berhasil menyerang Hollandia. Dengan penyerangan ini, berarti Hindia Belanda sudah dimasuki oleh sekutu, dan kemudian satu bulan setelahnya, sekutu telah menginvasi Biak.

15 Juni 1944, pulau Saipan di Mariana diserbu oleh sekutu. Hal ini cukup menarik mengingat 9 hari sebelumnya sekutu baru saja menjalankan operasi D-Day yang metode penyerangannya hampir sama dengan operasi di Mariana yakni menginvasi secara amfibi. Seperti rencana sebelumnya, laksamana Chester Nimitz adalah seorang yang bertanggung jawab atas jalannya operasi ini. Pertempuran di pulau Saipan juga menandakan dimulainya pertempuran di kepulauan Mariana dan Palau.

Kekuatan Amerika yang tak terkalahkan membuat Jepang akhirnya terdesak hingga ke Tinian pada Agustus 1944. Jatuhnya Tinian menandakan bahwa Mariana sudah jatuh ke tangan Sekutum, dengan Jatuhnya kepulauan Mariana, Jepang harus siap menerima serangan pesawat bomber dari Amerika. Meski begitu, tentara Jepang tetap keras kepala dan tidak kehilangan kepercayaan diri mereka akan kejayaan Jepang. Kelak pertempuran yang diberikan oleh mereka akan lebih brutal dan berbahaya bagi Jepang maupun Amerika.

Sekarang Amerika dan sekutunya bisa memfokuskan diri untuk melemahkan Jepang di Palau dan Formosa. Meski Jepang sudah semakin terdesak, uniknya pada pemerintah Jepang menyembunyikan kejadian sesungguhnya dari masyarakat. Para rakyat diharapkan untuk terus menjunjung tinggi rasa nasionalisme dan kepercayaan akan kemenangan yang membawa kejayaan bagi Jepang. Meskipun begitu, moral dari rakyat Jepang sudah mulai menurun dan alasan utamanya adalah karena kekurangan bahan makanan.

Untuk menghemat pasokan makanan, mereka memburu hewan di kebun binatang. Namun kematian hewan di kebun binatang malah membuat rakyat dan anak-anak menjadi sedih yang justru semakin menurunkan moral mereka. Formosa, pulai strategis yang diincar sekutu akhirnya diserang pada 12 Oktober 1944. Pertempuran Formosa sangat mirip dengan pertempuran London di Eropa dimana pertempuran ini merupakan pertempuran udara.

Pasukan Jepang yang dipimpin oleh laksamana Toyoda, seperti yang sudah diprediksi oleh sekutu sebelumnya, kekuatan Jepang di Formosa sangat berpengaruh terhadap koloni mereka di Asia Tenggara. Jika armada Jepang hancur di Taiwan maka akan sulit menjadi sulit bagi Jepang. Pertempuran berlangsung selama 4 hari hingga tanggal 16 Oktober dimana sekitar 600 kru angkatan perang Jepang yang harusnya dikirim ke teluk Leyte sudah tewas terlebih dahulu.

Selanjutnya perang di teluk Leyte dimenangkan oleh Amerika dalam waktu3 hari pada 26 Oktober. Namun Jepang tetap menunjukkan dunia bahwa mereka merupakan prajurit tangguh. Salah satu pembuktian Jepang akan hal ini adalah pertempuran di Peleliu adalah sebuah pulau kecil di kepulauan Palau. Meskipun pulau ini kecil, pulai ini dipenuhi oleh gua Galian yang menjadi pertahanan Jepang yang membuat Amerika menjadi kuwalahan.

Pasukan Amerika berpikir bahwa peperangan ini hanya akan berlangsung dalam beberapa hari. Namun nyatanya baru selesai pada 27 November 1944, ini berarti pertempuran untuk merebut pulau yang kecil ini berlangsung hampir 3 bulan sejak 15 September. Amerika bahkan kehilangan 9.800 orang yang merupakan 1.800 tewas dan 8.000 terluka. Selain itu pasukan Jepang juga melancarkan serangan Kamikazenya pada 25 Oktober 1944 di teluk Leyte. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan moral Amerika dalam perang, satu demi satu pilot Kamikaze mengorbankan dirinya demi kaisar dan Jepang.

Namun meskipun pasukan Jepang sangatlah berani, mereka tetap dipukul mundur oleh Amerika pada 11 November, sebuah pulau kecil di selatan Jepang secara mengejutkan dibom oleh Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika sudah mulai menyerang kepulauan Jepang. Selain itu kepulauan ini memiliki 2 landasan terbang yang apabila jatuh dapat dijadikan Amerika sebagai sanggahan kapal untuk menyerang kepulauan Jepang. Pulau yang hanya berjarak 1.220 km dari Tokyo ini bernama Iwo Jima dan kelak pulau ini akan menjadi salah satu perbatasan terakhir sebelum sekutu bisa menyerang kepulauan Jepang.