Kekalahan Jepang, Inilah Akhir Perang Dunia (Part I)

Januari 1945, perang bagi Jepang sudah bagaikan senja. Para tentara Jepang berbaring lemas di barak dan tempat persembunyian mereka sambil membayangkan betapa kuatnya mereka dahulu. Kekuatan militer Jepang yang kuat dan tangguh dalam ratusan bahkan ribuan tahun. Saat Jepang diinvasi pasukan Mongol, para samurai gagah berani memukul balik mereka. Saat bangsa barat menguasai tetangga mereka yakni China, Jepang dengan cepat melakukan restorasi Meiji.

Namun kini itu semua hanyalah kenangan, Sekutu sudah semakin mendekati Jepang dan kelak pulau-pulau mereka akan diinvasi. Jenderal MacArthur dijadikan komandan utama di darat, sedangkan sobatnya Jenderal Nimitz dijadikan komandan utama di laut. Mereka ditugaskan untuk menyerang Iwo Jima, Okinawa dan kepulauan utama Jepang.

Pada tanggal 3 Januari 1945, Filipina kembali diserang oleh Amerika Serikat. Bulan ini kelak akan menjadi bulan yang sangat menegangkan bagi Jepang. Bagaimana tidak, Manila diserang pada 3 Februari, sedangkan pulau belerang atau Iwo Jima diserang pada 19 Februari 1945. Meskipun begitu kedua perang ini kelak akan membawa jumlah korban yang besar bagi sekutu. Sang marinir terkenal dari Guadalcanal, Sersan John Basilone yang telah mendapatkan medal of honnor sebelumnya menjadi korban akibat terkena mortar di hari pertama penyerangan Iwo Jima dan tewas.

Pada bulan Februari juga ada hal penting yang terjadi, yakni konferensi Yalta. Pada konferensi ini, Stalin dari Soviet berjanji akan membantu menyerang Jepang tepat 3 bulan setelah Jerman kalah. Meskipun Soviet memiliki pakta non agressi dengan Jepang. Soviet dan Jepang memiliki perbatasan panjang di Manchuria yang harus diamankan oleh Stalin. Selain itu Manchuria memiliki rel kereta api serta pelabuhan Dalian yang strategis. Soviet juga tidak menutup kemungkinan untuk menguasai daerah Sakhalin yang direbut Jepang setelah Russia Japenese War pada tahun 1905, 40 tahun yang lalu.

Konferensi Yalta ini memberi hak kepada Soviet untuk mengambil kembali Sakhalin selatan dan kepulauan Kuril sebagai tebusan bagi kekalahan mereka yang memalukan pada 1905. Kembali ke pertempuran Iwo Jima, Jenderal Jepang yang memimpin di Iwo Jima, Tadamichi Kuribayasi adalah jenderal yang menarik, ia pernah tinggal di Amerika Serikat dan ia menyadari betapa kuatnya kekuatan industri dari Amerika serikat. Pengalaman ini membuat Kuribayasi paham bahwa ia tidak akan bisa mengalahkan Amerika dengan strategi yang sama seperti Jenderal Jepang yang lainnya.

Kekalahan demi Kekalahan Jepang di Berbagai Wilayah

Strategi Kuribayasi adalah bertahan dan berusaha untuk memberikan kerugian yang sebesar mungkin bagi Amerika dan berharap mereka bisa mundur dan bukan mencoba untuk mengalahkan mereka. Ia berkata, tidak ada yang boleh mati sebelum setidaknya membunuh 10 prajurit musuh. Seperti Rommel ia bahkan membuat pasukan sekutu yang merupakan lawannya menjadi terkesan. Jenderal Howdy Smith yang memimpin USMC di Iwo Jima bahkan berkata, dari semua musuh kita di Pasifik, Kuribayasi adalah yang paling hebat.

Pertempuran di Iwo Jima berakhir pada 26 Maret 1945. Amerika menerima lebih dari 20.000 korban perang, melebihi tentara Jepang yang menerima sekitar 15.000 korban. Sedangkan Kuribayasi menghilang di Iwo Jima dan jasadnya tidak pernah ditemukan. 6 hari kemudian, setelah penaklukan Iwo Jima, Okinawa diinvasi oleh Amerika Serikat. Okinawa sangatlah penting bagi sekutu untuk dijadikan basis penyerangan ke kepulauan Honsu atau pulau utama Jepang.

Meskipun semuanya terlihat baik bagi sekutu, sebenarnya ada kabar duka dari Amerika Serikat pada tanggal 12 April 1945. Hari itu, presiden Amerika yang telah menjadi pemimpin saat depresi besar dan perang dunia ke 2 yaknik presiden Franklin Delano Roosevelt meninggal dunia. Bagi Amerika, Franklin Delano Rooosevelt adalah seorang ayah dan karenanya Wapres Truman menggantikannya sebagai presiden.

8 May 1945, Jerman mendeklarasikan bahwa mereka telah berhenti berperang di Eropa. Dengan deklarasi ini pertempuran di Eropa telah dimenangkan oleh sekutu. Jika Stalin menepati janjinya pada konferensi Yalta, maka bulan Agustus 1945 Jepang juga akan diserang oleh Uni Soviet. Jepang pun mulai menarik mundur pasukannya dari tempat kritis seperti China pada 20 Juni. Namun perdana menteri Jepang mengumumnkan bahwa Jepang tetap akan berperang hingga titik darah penghabisan.

2 Sekutu Jepang yakni Jerman dan Italia sudah menyerah dan membuat Jepang harus siap digempur sendirian oleh negara-negara besar yang tadinya lebih berfokus di Eropa seperti Uni Soviet. Pengumuman perdana menteri Suzuki juga mengindikasikan bahwa Jepang sudah kalah perang dan mereka hanya ingin menjaga kehormatan mereka dibandingkan menyerah. Filipina pun diumumkan bebas oleh Amerika pada 5 Juli 1945.