Serangan Balik Amerika Serikat Atas Jepang

Keperkasaan Jepang di Asia Tenggara telah dibuktikan dengan berhasil mengambil alih wilayah jajahan milik pasukan Sekutu. Hal ini dibuktikan dengan kaburnya seluruh komandan Sekutu ke wilayah Australia untuk menghindar dari kejaran Jepang. Namun, hal ini membuat yang pada awalnya adalah negara kecil, saat ini harus mampu mengelola berbagai wilayah jajahannya yang pada saat itu masih banyak terdapat penduduk setempat yang memiliki harapan akan kebebasan.

Pada awalnya Jepang disambut dengan baik oleh penduduk setempat karena mereka dipandang sebagai pembebas bangsa Asia. Namun, pada kenyataannya Jepang justru mengontrol berbagai aktifitas ekonomi, pemerintahan, hingga budaya di negara yang didudukinya tersebut. Seperti mengedukasi orang-orang di negara jajahannya dengan menetapkan bahasa Jepang sebagai kurikulum dalam pendidikan dan mengirimkan 23.000 orang di pemerintahan wilayah Hindia Belanda.

Hal ini sudah dapat dipastikan bahwa Jepang ternyata juga menjajah negara yang didudukinya. Banyak rakyat di negara dudukan yang pada awalnya pro kepada Jepang justru berbalik menjadi anti Jepang. Disamping itu, Jepang juga mempropagandakan dirinya sebagai pembebas Asia dari negara-negara penjajah. Karena hal itu, perdana menteri Jepang yaitu Tojo Hideki merancang Greater East Asia Ministry.

Organisasi ini berisikan pemimpin pro Jepang dari negara-negara yang diduduki oleh Jepang seperti India, Filipina dan Burma untuk menyatukan kekuatan melawan imperialisme barat. Meskipun begitu, Jepang juga harus bersiap menghadapi Amerika Serikat yang ingin balas dendam akibat diserangnya Pearl Harbor. Pada 4 juni 1942 yakni 6 bulan setelah penyerangan Pearl Harbor, Amerika dan Jepang berhadapan di Midway, sebuah pulau yang jaraknya 2.400 KM dari Hawaii.

Pertempuran Besar di Midway dan Kekalahan Jepang di Pasifik

Pulau ini akan menjadi penentu apakah Amerika dapat maju ke wilayah Pasifik atau ternyata Jepang dapat mempertahankan koloninya serta menunjukkan kekuatannya pada Amerika. Namun pada akhrinya pertempuran Midway dimenangkan oleh Amerika dengan ditenggelamkannya kapal Akagi, Hiryu, Kaga, dan Soryu yakni kapal pengangkut armada Jepang.

Melihat kekalahan ini, pada tanggal 19 Juni 1942 Jepang menghentikan rencana lanjutan di Midway yang artinya meninggalkan seluruh rencananya untuk meluaskan pengaruh di Pasifik. Pertempuran Midway sama seperti pertempuran Stalingrad di Eropa. Pertempuran ini merupakan titik balik melawan Jepang di Pasifik, mulai dari sekarang Jepang berperang bukan untuk menang namun untuk membela dirinya.

Amerika dengan moral yang sangat tinggi dan semangat yang sangat membara, melanjutkan serangan untuk menyerbu kepulauan Solomon tepatnya di Guadalcanal. Pertempuran Guadalcanal terjadi pada 7 Agustus 1942 dan pertempuran ini menjadi salah satu peperangan yang paling terkenal di Pasifik. Selain membuka kembali jalan bagi Amerika ke Asia Tenggara, pertempuran ini merupakan peperangan yang menghasilkan banyak tentara Amerika yang terkenal.

Salah satu yang paling terkenal adalah peristiwa sersan John Basilone yang mendapatkan medal of honnor yaitu medali tertinggi dalam institusi tentara Amerika Serikat. Basilone, seorang marinir yang berasal dari New Jersey membuat tentara Amerika Terkagum atas aksinya saat peristiwa Tokyo Ekspress pada Oktober 1942. Tokyo Ekspress adalah sebutan dari tentara Amerika bagi persediaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia Jepang yang diturunkan secara besar-besaran untuk menghajar habis Amerika Serikat.

Jendral Masao Maruyama memimpin sekitar 2.000 prajurit Jepang, namun banyak berhasil ditumpas oleh satu prajurit yang bernama Sersan John Basilone. Sebuah senapan mesin dengan berat 18,5 kg, diangkat oleh Basilone untuk melindungi garis pertahanan dari Amerika Serikat. Dengan senapan mesinnya, Basilone membuat pertempuran ini menjadi area pembunuhan masal bagi tentara Jepang. Ia menembaki tentara Jepang yang ia lihat dan saat ia kehabisan amunisi, ia membawa pistol dan golok untuk mengambil amunisi yang ada.

Setelah pertempuran berakhir, sekitar 1.000 prajurit Jepang mati di sekitarnya, meskipun secara resmi ia hanya membunuh 38 orang karena dikonfirmasi sisanya mati karena tembakan artileri. Karena Jepang kualahan menghadapi pasukan Amerika Serikat di Guadalcanal, kaisar Hirohito akhirnya menginstruksikan mereka untuk mundur pada 31 Desember 1942. Namun semua orang tahu bahwa tentara Jepang lebih memilih mati terhormat dibandingkan mundur atau menyerah.

Evakuasi tentara Jepang baru dimulai satu bulan kemudian yakni pada awal Februari 1943, walaupun masih ada perlawanan kecil pada 9 Februari 1943. Disamping itu, sekutu Amerika Serikat yang lainnya juga mulai ikut memberikan serangan balik terhadap Jepang. Pada 8 Februari, tentara Inggris dan India memulai serangan gerilya terhadap Jepang di Burma akibat tindakan Jepang yang sebelumnya juga sempat meledakkan bom di Kalkuta pada 20 sampai 24 Desember.

Sejak saat itu Jepang selalu diganggu oleh Inggris di Burma yang semakin menyudutkan Jepang di Asia Tenggara. Kejadian penting di Pasifik terjadi lagi pada tanggal 18 April 1943, pada hari ini laksamana Yamamoto yang merupakan arsitek dari penyerangan Pearl Harbor, pergi menggunakan pesawat di pulau Bouganville untuk melihat pangkalan-pangkalan Jepang yang sekarang menjadi wilayah Papua New Guinea.

Pasukan pemecah kode, berhasil memecahkan kode tentang keberadaan laksamana yang sudah memaksa Amerika untuk masuk kedalam perang dunia ke 2. Sekitar 18 pesawat dikerahkan dan berhasil menjatuhkan pesawat Yamamoto. Bagi Amerika hari ini adalah hari balas dendam atas Pearl Harbor dan Jepang kehilangan salah satu Jendral terbaiknya dalam urusan strategi. Akibat banyaknya kekalahan dan berita buruk, tentara Jepang semakin bengis dan membeci tentara sekutu. Mereka mengumumkan bahwa semua tentara Amerika Serikat yang tertangkan akan diberikan bonus, yaitu tiket satu arah ke neraka yang artinya adalah eksekusi masal pada tanggal 22 April 1943.

Namun sebenarnya hal ini sudah disadari oleh Amerika dan Sekutu mengingat betapa buruknya perlakuan tentara Jepang pada tawanan perang. Bahkan sehari sebelumnya, pada 21 April 1943 presiden Franklin mengumumkan ada beberapa kru angkatan Amerika yang dieksekusi Jepang. Kejahatan perang Jepang pun semakin terlihat semenjak hari itu, Centaur yang merupakan kapal rumah sakit milik Australia ditenggelamkan oleh kapal selam Jepang pada 14 Mei 1943.

Tapi tetap saja, Jepang terus didorong mundur hingga kaisar Hirohito menyatakan bahwa kondisi negaranya sudah benar-benar serius pada 26 Oktober 1943. Serangan terus menerus membuat mereka sudah kehilangan kepulauan Solomon dan sekutu sudah mendarat di Papua New Guinea. Pada akhir 1943, Cape Gloucesther, kejatuhahan ini menggambarkan bahwa Jepang sudah mulai mundur namun keadaan mereka belum termasuk parah karena mayoritas Asia Tenggara masih dikuasai mereka dengan sumber alamnya yang menunjang kebutuhan perang mereka. Keadaan perang yang parah baru dimulai pada tahun 1944.